Minggu, 21 April 2013

Pemeriksaan Mata, Kok Bisa Diukur Hanya Dengan Huruf-huruf?

Pemeriksaan Mata, Kok Bisa Diukur Hanya Dengan Huruf-huruf?

Basa-basi sessi 1:
Sejak sebelum mengetikkan kalimat pertama artikeli ini, saya sudah merencanakan judul seperti ini: “Fisiologi Mata Yang Mendasari Pemeriksaan Ketajaman Penglihatan”. Maunya berkesan ilmiah dan nampak intelek. Tapi setelah selesai dan bersiap untuk mempublishnya, saya jadi agak malu dan berpikir: “Memangnya saya intelek beneran? Lagian, judul seperti itu rasanya kok bisa bikin muak dan mual calon pembaca yang sudah bosan atau yang memang kurang suka dengan tulisan-tulisan berat”. Pada akhirnya, saya rubah judulnya dengan yang berkesan ringan, meskipun isi artikelnya sendiri bukan sesuatu yang enteng (sombong.info).
Basa-basi sessi 2:
Mungkin masih banyak masyarakat umum yang belum tahu, takdir dan nasib itu sesuatu yang berbe.. eh, lho.. kok malah kejeblos jadi mama-mama yang ituh.. Ta’ ulang dari tanda koma sesudah “belum tahu” ya.. …mengapa huruf-huruf atau angka-angka yang terdapat pada Snellen Chart dapat menjadi tolok ukur dalam pemeriksaan ketajaman penglihatan. Sebenarnya, yang lebih tepat menjadi pokok pertanyaan adalah ukuran huruf/angkanya, bukan sekedar bentuknya. Kenapa bisa begitu?
Basa-basi berakhir.

Di artikel yang ini pernah kita bahas tentang proses terjadinya penglihatan pada manusia. Berkas-berkas cahaya yang menjadi unsur utama dalam proses penglihatan, akan masuk melalui kornea dan bilik mata depan. Lalu melewati iris/pupil yang bertugas mengatur agar jumlah berkas cahaya yang masuk tidak berlebihan, kemudian melewati lensa kristalin dan badan kaca (vitreous humor), dan akhirnya sampai di retina yang bertugas sebagai unit sensor cahaya, untuk selanjutnya diubah menjadi sinyal-sinyal elektris yang dikirim ke otak. Selama melewati beberapa media tersebut (kornea, cairan di bilik mata depan, lensa kristalin, dan badan kaca), berkas-berkas cahaya itu akan mengalami pembiasan dan akhirnya terfokus di retina, tepatnya di daerah fovea sentralis. Pada saat itu pula bayangan obyek yang dilihat akan terbentuk di retina, dengan kondisi lebih kecil dan terbalik. Retina merupakan jaringan yang tersusun atas sel-sel yang berbentuk batang dan kerucut. Namun, sel-sel yang berbentuk kerucut lah yang lebih banyak berperan dalam ketajaman penglihatan. Sel-sel ini, yang berdiameter ± 3 mikron, terkonsentrasi di daerah fovea sentralis.
Sebagai satu kesatuan system optis, bolamata juga memiliki titik pusat optik atau Nodal Point, di mana setiap berkas cahaya yang melewatinya tidak akan dibiaskan. Nodal Point ini berjarak 16,75 mm dari retina. Dua titik yang terpisah (misalnya disebut titik A dan titik B) akan terlihat dengan jelas sebagai dua titik yang terpisah jika bayangan kedua titik tersebut (titik A’ dan B’) jatuh pada retina sejarak sedikitnya 1 ? sel.
dua titik sejarak 1 2/3 sel
Jika kemudian ditarik suatu garis yang menghubungkan titik di sel ke 1 (selanjutnya akan disebut titik A’) ke arah titik A dengan melewati Nodal Point (selanjutnya akan disebut titik NP) dan dari titik di sel ke 2 (selanjutnya akan disebut titik B’) ke arah titik B juga dengan melewati titik NP, maka garis A-NP-B (juga A’-NP-B’) tersebut akan membentuk sudut 1′. Sudut inilah yang kemudian disebut sebagai sudut penglihatan sentral atau sudut visus sentral.
sudut visus sentral
Untuk mengetahui berapa jarak minimum titik A ke titik B (misalnya jarak ini kita sebut x) supaya dapat membentuk sudut penglihatan sentral sebesar 1′ jika dilihat/diamati oleh mata dari jarak tertentu (misalnya disebut d), maka dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

tang? = x/d sehingga x = d.tang?

x dan d dihitung dalam satuan mm.
Nilai X inilah yang menjadi dasar penentuan ukuran huruf atau angka atau bentuk obyek lainnya pada optotip atau Snellen Chart yang digunakan untuk menguji ketajaman penglihatan. Huruf atau angka itu dibuat sedemikian rupa sehingga dapat membentuk sudut penglihatan sentral sebesar 5′ jika dilihat dari jarak tertentu, namun hanya akan terlihat jelas oleh orang yang mempunyai sudut penglihatan sentral sebesar 1′ (sudut penglihatan sentral pada orang berpenglihatan normal). Berdasarkan itu, jika misalnya nilai X = 3 mm, maka huruf atau angka yang ingin dipakai untuk menguji ketajaman penglihatan harus mempunyai tebal coretan (stroke) sebesar 3mm, dengan tinggi huruf/angka sebesar 5 x 3mm = 15mm. Bentuk coretan (stroke) huruf harus konsisten, tidak boleh tebal tipis seperti kaligrafi. Penerapannya seperti ini:
huruf e
Tapi ingat, saya tidak dapat merubah anda menjadi seorang ahli pembuat optotip atau Snellen Chart, tapi.. saya dapat membantu anda untuk merubah nasibmu sendiri.. ketik REG>spasi>MAMA, kirim ke.. wadaawwww..!! (ada yang nyubit)

http://www.optiknisna.info/pemeriksaan-mata-kok-bisa-diukur-hanya-dengan-huruf-huruf.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Berikan komentar untuk kemajuan blog ini seterusnya.